Berbahagialah Mereka yang Mati Muda

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, yang tersial adalah yang berumur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

     Ungkapan sinisme filsuf Yunani Silenus itu dikutip Soe Hok Gie dalam satu tulisannya. Gie sendiri mati muda di lereng gunung Semeru karena mengisap uap beracun.

     Kutipan itu teringat lagi olehku saat ikuti misa requiem Florentinus Novel Indek, yang wafat kemarin. Indek baru 31 tahun, masih OMK dan aktif dalam kegiatan OMK.

     Mereka yang wafat di usia muda, apakah kita kenal baik atau tidak, meninggalkan rasa sesak tersendiri di dalam dada. Orang muda mendiami suatu masa ketika peluang hidup begitu besar. Dibandingkan dengan anak-anak atau lansia, orang muda memiliki daya hidup yang paling kuat. Penyair Samuel Ullman menulis: youth is not a time of life; it is a state of mind; it is not a matter of rosy cheeks, red lips and supple knees; it is a matter of the will, quality of the imagination, a vigor of the emotions; it is the freshness of the deep springs of life.

     Adalah suatu kesedihan mendalam jika orang muda ternyata memiliki harapan hidup yang rendah, ketika ia berada dalam situasi hidup yang membahayakan. Orang-orang muda juga hidup di daerah konflik, diatur oleh pemerintah dan militer yang represif, negara-negara miskin, negara dengan angka kriminalitas yang tinggi, jalur-jalur perdagangan narkoba & perdagangan manusia, negara tempat senjata api diperjualbelikan dengan bebas. Orang muda juga hidup dalam situasi yang membahayakan mereka. Banyak yang menjadi korban karenanya.

     Kawan kita Indek mengalami hidup yang baik. Banyak kesaksian betapa ia ringan tangan, tak pernah menolak pelayanan, selalu mau menolong, ramah & bersahabat, serta hadir di manapun untuk membantu. Sungguh suatu kehilangan besar ketika ia pergi. Semuda itu, apakah sudah harus pergi?

     Indek dan mereka yang wafat di usia muda, mengingatkan kepada kita betapa hidup itu rapuh dan karenanya berharga. Kepergian Indek menyisakan  niat yang pedih untuk semakin keras berupaya agar kaum muda kita mendapatkan perhatian dan bantuan, khususnya yang hidup dalam situasi memprihatinkan. Betapa gembiranya jika banyak orang muda menjadi semacam Indek-Indek selanjutnya. Tak perlu lagi ada generasi yang hilang karena kekejaman dunia. Semua berkumpul dalam satu kawanan, tubuh mistik Tuhan, yang menyusuri jalan keselamatan-Nya.*

Foto: Dok. Panitia IYD 2012

Comments